Kamu Kaum #JempolMurahan?

Istilah tersebut muncul dari whatsapps grup komunitas (mantan) bloger Semarang, Loenpia yang sedang membahas viral dua orang lelaki yang merupakan saudara dan sudah lama tidak berjumpa kemudian melakukan aksi yang dianggap tidak lazim dilakukan. #JempolMurahan tercetus karena kami gemes dengan kaum yang dengan mudahnya main share sana sini tanpa tahu atau cari tahu kebenarannya terlebih dahulu. 

Jaman Sekarang sebuah berita gampang sekali menjadi viral. Tinggal share di sosial media, tempelin judul yang “wow”, dan tulisan lebay, lalu beredarlah sampai ujung dunia. Belum lagi dengan embel-embel kata “Copas dari grup sebelah” (sebelah mana?), “Cuma Share, semoga bermanfaat” (yakin?), dan kata-kata sejenisnya yang kalau ditanya oknumnya juga tidak bisa menjelaskan detail. Sebut saja Erik (bukan nama sebenarnya), sudah berulang kali melakukannya, bahkan dibanned dari grup whatsapps loenpia tapi tetap saja melakukan. Seringnya orang seperti ini keukeh dan ngeyel dulu bahwa berita itu benar dan tak jarang mengaitkan dengan dosa, azab, dan neraka. Tapi disatu sisi ada juga yang kemudian lari karena maksudnya juga hanya sekedar berbagi keisengan. Menurut saya, keduanya sama-sama tidak bertanggung jawab.

Berbagai cara telah ditempuh untuk mengurangi angka kaum #JempolMurahan ini, tapi tetap saja mereka ada dimana-mana. Lalu apakah kita juga menjadi bagian dari kaum ini? Ada beberapa tips yang beredar di internet yang berguna untuk menahan nafsu kaum #JempolMurahan ini, tapi semua itu kembali lagi harus dimulai dari diri kita sendiri. Apakah jika kita tahu kebenarannya lalu kita hanya diam melihatnya? Kalau saya sih, tidak! Meskipun saya dikatakan gila di sebuah grup bahkan kalau saya mengatakan hoax maka akan muncul dalil-dalil dan doa panjang yang saya sudah eneg sendiri.. Beuh! Ya sudahlah, filter ada pada diri kita sendiri.

Mampukah kita menahan jempol sejenak untuk mencari tahu kebenaran baru membaginya ke orang lain?

*gambar dari sini

Advertisements

4 thoughts on “Kamu Kaum #JempolMurahan?

  1. Pingback: Biar Jempolmu Ngga Jadi #JempolMurahan | seasjourney

  2. Pingback: Jangan Jadi #JempolMurahan | kata dan rasa

  3. Pingback: Jangan Jadikan Jempolmu Murahan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s