Mbungkul Yuks!

photo (29)

Salah satu pesona kota Surabaya, selain kuliner, menurut saya adalah taman kota. Sebut saja Taman Apsari di Jl. Gubernur Suryo, Taman Lansia, Taman Bungkul, dll. Kali ini saya ingin membahas apa sih yang menarik di Taman Bungkul?

photo (32)

Taman yang terletak di sebelah kanan Jalan Raya Darmo ini merupakan salah satu taman kota yang selalu ramai dikunjungi. Letaknya yang strategis, bisa jadi salah satu alasan tempat ini dijadikan tempat jalan-jalan, kuliner, olahraga, foto-foto, main di playground, menikmati wifi gratis, ataupun sekedar nongkrong. Continue reading

Tradisi Tawuran

Sore ini perjalanan dari kantor di Darmawangsa ke Rasuna Said penuh dengan ketakutan. Begitu driver membuka pagar kantor, dia sudah mengingatkan ada tawuran sepertinya di ujung jalan sana. Saya yang membayangkan paling hanya jotos-jotosan pun santai saja.

Mobil keluar pagar kantor, di sinilah ketegangan dimulai. Serombongan pemuda berseragam atasan biru berlari, ada yang berhenti sesaat mengambil nafas. Baju mereka penuh coretan pilox. Mobil terus melaju di jalan yang relatif kecil dan searah, berlawanan dengan arah mobil tak jauh dari serombongan pemuda yang berlari adalah serombongan pemuda juga yang ditangannya membawa samurai, clurit, golok, miras, dan benda tajam lainnya. Serombongan pemuda bersenjata tajam tadi jumlahnya jauh lebih banyak dari pemuda berbaju biru yang berlari di depan tadi.

Cara berjalannya sok sekali. Badan ditegapkan dan senjata diayun-ayunkan seakan siap menebas apapun yang menghalanginya di depan. Mobil dan motor yang berjalan berlawanan dengan arah mereka memperlambat kecepatannya. Saya dan driver berada di dalam salah satu mobil yang berlawanan tadi. Saya takut tetiba para tetawur itu menghampiri mobil yang lewat dan merusaknya. Saya takut pada senjata tajam yang mereka bawa. Saya takut senjata tajam itu digunakan tidak semestinya. Saya takut ada korban. Saya takut orangtua mereka kecewa dan menangis.

Pikiran saya saat itu juga memang langsung tertuju pada seorang teman yang jalan pulang ke kost harus melewati jalan ini. Refleks saya angkat telpon dan menelponnya. Melarang dia untuk tidak segera pulang sore ini. Pikiran saya berikutnya adalah perasaan orangtua korban tawuran. Senjata tajam sudah pasti dilayangkan. Nyawa bisa jadi melayang. UN baru saja selesai, beban baru saja terlepas satu. Sayang sekali jika pelepasan stres itu dilepaskan dengan tawuran. Sepertinya memang sudah menjadi “kebiasaan” di kota ini. Sesaat setelah saya bertemu dengan para tetawur itu saya lihat hp dan ada berita kalau “Polda Metro menghindarkan pelajar tawuran seusai UN dengan mengikutkan mereka ujian masuk tentara”.

Usul saya pada semua sekolah dan orang tua adalah melakukan pemeriksaan pada tas dan segala apapun terhadap senjata tajam seusai UN selesai. Bisa jadi mereka menitipkan senjata tajam itu pada entah siapa di luar sekolah, sebaiknya ada beberapa guru yang ditugaskan untuk terus mengawasi gerak gerik murid yang bergerombol seusai UN. Entah mungkin ada cara yang lebih bagus lagi dari pihak sekolah. Jika ada, segera laksanakan. Buktinya di sekolah yang di daerah tidak ada tradisi macam ini. Jelas tradisi ini harus segera dicari pemecahan masalahnya.

Semoga segera teratasi.