Ini Masalah Potong Rambut!

Sepanjang sejarah saya potong rambut tidak pernah ada sekalipun niatan untuk pergi ke Salon dengan inisiatif sendiri tanpa disuruh atau diseret dulu.

Saya orang yang paling males menginjakkan kaki ke Salon, baik itu untuk perawatan rambut ataupun potong. Waktu TK-SD, om tante saya yang selalu menyeret saya ke tukang potong rambut, entah itu ke tukang rambut Madura atau ke tukang potong rambut panggilan langganan kakek & bapak saya. Soal model rambut, ya standar lah selalu mengarah ke potongan bathok kelapa. Saya ingat sekali dulu ada artis cilik yang namanya Melisa yang nyanyi “Abang Tukang Bakso”, nah dia kan ngetop banget tuh dulu iseng punya iseng ternyata tante saya ngomong ke tukang cukurnya buat motong saya dengan model ala Melisa itu. Nah! Yang ada persis banget sama bathok kelapa yang ditaruh di kepala saya dulu, baru dipotong deh ini rambut. Buletnya sama sih, pipi montoknya juga sama, tapi wajahnya ya jelas beda! Nah dia sipit cantik ala cina gitu, aku persis bakpao berambut kepala bathok. Untung waktu kecil belum item kek sekarang.

Agak gedean dikit, tetap aja masih diseret. Bahkan yang paling diingat adalah kejadian waktu itu kalo gak salah kelas 6 SD, seisi rumah mbah itu pada ikutan nyeret. Aku sih ngumpet di bawah meja gede depan tv sambil sesengukkan gitu. Nah mereka nungguinnya lamaaaaaaaaa banget. Akhirnya sampai sore dan mbah kung dateng, ditambah om yang galak banget. Klop deh adegan seret menyeret itu. Dibawalah aku ke tukang cukur Madura di sebelah rumah embah. Dipotong tetap dalam keadaan nangis dan mulut monyong (iya monyong ini alami sih).

Rada lega itu waktu SMA sampai kuliah. Di Pekunden dulu ada Salon yang juga jadi markasnya “Elmosta”, namanya Iwan Sebastian Salon. Elmosta itu agensi model dari Semarang (kalo tidak salah). Nah di sini ini orang rumah mulai lega, aku sudah mulai rada ikhlas potong rambut. Alasannya adalah yang motong orangnya grapyak trus dia suka ngepasin sama bentuk muka, alhasil rambutku sudah tidak jadi sasaran ejekan teman2 sekelas & se kompleks lagi.

Ternyata salon ini tidak bertahan lama. Seiring dengan bergantinya profesi si mas Iwan Sebastian ini jadi tukang dekor rumah (dia ini yang dekor rumah mewahnya Inul Daratista yang di Pondok Indah) dan mas Iwannya hijrah ke Jakarta. Kembali pada selera asal, males potong rambut. Cari salon itu tidak mudah, menurut saya. Kudu sreg sama orangnya, kudu nyaman tempatnya, dan harga terjangkau.

Ngomong punya omong, akhirnya teman ibuk menyarankan ke daerah Manyaran, Budi Salon. Iya ini nyaman. Mas Budi nya grapyak, model ya boleh lah, walau masih juara mas Iwan. Harga tiap potong rambut dengan kramas adalah Rp. 10.000,00. Dan tiap ke sana itu butuh waktu selo. Selain kudu nunggu ibuk ngecat rambut, juga nunggu tante juga yang ngecat rambut. Belum lagi jarak ke Manyaran nya jauhh. Beberapa waktu ini si mas Budi ini melebarkan sayap salonnya ke SK, iya Sunan Kuning. Terpaksa ke tempat itu, lha mas Budi nya lebih sering ada di cabang yang ini. Risih juga 😐

Dan hari ini, setelah kira-kira 2 tahun memanjangkan rambut, akhirnya ketabrak juga ini rambut sama gunting. Tetap dong disuruh. Oknum yang bertanggung jawab kali ini calon suami saya. Kalian yang berdomisili di Jakarta pasti tahu harga standar potong rambut di Jakarta itu berapa. Iya itu mahal buat saya, wait! Bukan itu alasan tepatnya, tapi tetap sih karena saya males ke salon. Alhasil hari ini dengan ditemani teman-teman kost, saya keliling Ambas untuk mencari salon murah. Sepanjang ingatan saya, sudah 2x ini selama di Jakarta saya potong rambut. Yang pertama disuruh bos dengan dibekali uang dan hari ini dengan biaya sendiri. Tetap saja yang murah ya di Jhonny Andrean. Dengan biaya Rp. 58.000,00 rasanya kan sia-sia kalo cuma merapikan saja, akhirnya daripada saya menyesali uang sebesar itu ya saya potonglah pendek. Sekarang rambut saya persis Dora. Bedanya saya tanpa poni.

Besok hari Senin dan saya lebih suka bekerja sambil bawa tas ransel. Sebut saya Dora dan saya akan teriak, Peta peta peta!

 

Selamat malam, selamat menyambut hari Senin.

Galau Maksa

Pernah dengar lagunya Vidi Aldiano yang judulnya Pupus Kasih Tak Sampai?

Iya itu Pupusnya Dewa digabungin sama Kasih Tak Sampainya Padi. Pertama dengar ya sukseslah buat yang galau buat garuk-garuk tanah (katanya), tapi makin lama didengarkan semakin bingung juga. Apa korelasi kedua lagu tersebut sampai Vidi menggabungkannya? Menurut saya, kedua lagu tersebut berbeda kisah. Ini video klipnya buat yang belum pernah dengar. http://www.youtube.com/watch?v=IqaUdgA0kjM

Nanti suatu saat kalau saya bertemu Vidi Aldiano, saya tahu apa yang harus saya tanyakan. “Kenapa kamu memaksakan dua lagu yang berbeda cerita kamu gabungkan demi kata “galau” yang sedang naik daun, padahal jelas itu merusak esensi sebuah lagu?”

Terimakasih.

 

Ps: Iya saya lagi selo, wong Padi sama Ahmad Dhani aja gak protes kok saya protes. :p

Lagu Pernikahan

Hai selamat malam,

Lagi bingung nih cari lagu buat acara beberapa minggu ke depan. Ada yang bisa bantu saya menambahkan playlist?

Pilihan saya:

1. Janji Suci – Yovie Nuno. Calon suami saya pernah menyanyikan lagu ini buat saya. Ndak pake wedding proposal segala ala lebayers pastinya.

2. Kisah Romantis – Glenn Fredly. Sejak awal kemunculan lagu ini, saya langsung jatuh hati pada liriknya.

3. Cinta Terakhir – Ari Lasso. Beberapa kali menyanyikan lagu ini, rasanya tenggorokan tercekat dan mbrebes mili.

4. Menikahimu – Kahitna. Saya suka musik+liriknya.

5. Terimakasih Bijaksana – Sheila on 7

6. From This Moment – Shania Twain

7. Thank You For Loving Me – Bon Jovi

8. Karena Kamu Cuma Satu – Naif.

9. Shane Filan – Beautiful in white. Baru nemu di channel youtube nya Fahmi pas acara siraman & midodareni :p

Ayo dong tambahin lagi.. Biar nanti diacara gak ada awkward gegara salah salah lagu, kan gak asik tuh kalo nikahan masak lagunya putus, selingkuh, atau cari jodoh. 😐

Terimakasih ya.. 😀

Pilih Souvenir Apa?

Berbagai pernak pernik yang berkaitan dengan pernikahan itu terkesan seru dan rada membingungkan, ribet tapi seru. Perihal souvenir misalnya. Beberapa pasangan memilih untuk memadukan antara souvenir, undangan, dan memberikan tema pada pesta pernikahan yang akan diadakan. Tentu saja sedikit ribet untuk memadukannya.

Saya termasuk yang mengalami sedikit kesusahan itu. Bukan dalam memadukan, tetapi dalam hal mencari barangnya. Dari pikiran pertama yang terbersit adalah pembatas buku atau bookmark. Kenapa saya memilih bookmark? Karena saya suka membaca dan saat membaca saya paling sayang kalau halaman buku harus dilipat demi membatasi seberapa jauh halaman yang kita baca. Tentu saja lipatan buku tersebut akan merusak buku, padahal buku adalah aset. Dari pemikiran tersebut, maka saya tanya sana sini, browsing-browsing, dan mengunjungi beberapa toko souvenir. Ternyata tidak semua toko menyediakan pembatas buku ini. Beberapa toko online bahkan menolak dan mengatakan bahwa souvenir semacam itu sudah tidak tren lagi, jadi stock nya sudah tidak tersedia. Pemilihan pembatas buku pun harus melalui seleksi. Beberapa toko yang saya datangi di daerah Asemka menyediakan pembatas buku berbentuk wayang lengkap dengan tangkainya. Hati-hati, tangkainya wayang ini terbuat dari tusuk sate yang cenderung akan melukai halaman buku. Tentu saja ini bukan pilihan yang bagus.

Pilihan saya kemudian berganti ke luggage tag. Sudah pernah lihat pasti ya. Oke luggage tag adalah tanda pengenal yang biasa dipasang di koper atau tas. Ternyata barang ini pun juga sudah susah dicari. Duh! Saat putus asa melanda, akhirnya Pasar Jatinegara lah yang dituju. Nama bekennya Pasar Jatinegara, tapi nama aslinya Pasar Mester. Jangan bilang ke Pasar Mester ya kalau naik taxi, tidak semua sopir taxi tau letak Pasar Mester, katakan Pasar Jatinegara.

Kurang dari 1 jam berkeliling, akhirnya ketemu juga souvenir yang klop dengan undangan. Apa souvenir yang akhirnya saya pilih? Silakan datang sendiri ke acara saya.. :D. Oiya, kalau sudah menentukan satu barang jangan lupa untuk berkeliling dulu demi harga miring, karena harga yang dipatok tiap kios berbeda.

Pesan Moral: Mencari souvenir itu butuh kesabaran. Jangan ragu untuk bertanya pada teman-teman yang punya pengalaman. Jangan ragu untuk terjun ke pasar souvenir. Banyak browsing.

Happy hunting 😀