Tradisi Tawuran

Sore ini perjalanan dari kantor di Darmawangsa ke Rasuna Said penuh dengan ketakutan. Begitu driver membuka pagar kantor, dia sudah mengingatkan ada tawuran sepertinya di ujung jalan sana. Saya yang membayangkan paling hanya jotos-jotosan pun santai saja.

Mobil keluar pagar kantor, di sinilah ketegangan dimulai. Serombongan pemuda berseragam atasan biru berlari, ada yang berhenti sesaat mengambil nafas. Baju mereka penuh coretan pilox. Mobil terus melaju di jalan yang relatif kecil dan searah, berlawanan dengan arah mobil tak jauh dari serombongan pemuda yang berlari adalah serombongan pemuda juga yang ditangannya membawa samurai, clurit, golok, miras, dan benda tajam lainnya. Serombongan pemuda bersenjata tajam tadi jumlahnya jauh lebih banyak dari pemuda berbaju biru yang berlari di depan tadi.

Cara berjalannya sok sekali. Badan ditegapkan dan senjata diayun-ayunkan seakan siap menebas apapun yang menghalanginya di depan. Mobil dan motor yang berjalan berlawanan dengan arah mereka memperlambat kecepatannya. Saya dan driver berada di dalam salah satu mobil yang berlawanan tadi. Saya takut tetiba para tetawur itu menghampiri mobil yang lewat dan merusaknya. Saya takut pada senjata tajam yang mereka bawa. Saya takut senjata tajam itu digunakan tidak semestinya. Saya takut ada korban. Saya takut orangtua mereka kecewa dan menangis.

Pikiran saya saat itu juga memang langsung tertuju pada seorang teman yang jalan pulang ke kost harus melewati jalan ini. Refleks saya angkat telpon dan menelponnya. Melarang dia untuk tidak segera pulang sore ini. Pikiran saya berikutnya adalah perasaan orangtua korban tawuran. Senjata tajam sudah pasti dilayangkan. Nyawa bisa jadi melayang. UN baru saja selesai, beban baru saja terlepas satu. Sayang sekali jika pelepasan stres itu dilepaskan dengan tawuran. Sepertinya memang sudah menjadi “kebiasaan” di kota ini. Sesaat setelah saya bertemu dengan para tetawur itu saya lihat hp dan ada berita kalau “Polda Metro menghindarkan pelajar tawuran seusai UN dengan mengikutkan mereka ujian masuk tentara”.

Usul saya pada semua sekolah dan orang tua adalah melakukan pemeriksaan pada tas dan segala apapun terhadap senjata tajam seusai UN selesai. Bisa jadi mereka menitipkan senjata tajam itu pada entah siapa di luar sekolah, sebaiknya ada beberapa guru yang ditugaskan untuk terus mengawasi gerak gerik murid yang bergerombol seusai UN. Entah mungkin ada cara yang lebih bagus lagi dari pihak sekolah. Jika ada, segera laksanakan. Buktinya di sekolah yang di daerah tidak ada tradisi macam ini. Jelas tradisi ini harus segera dicari pemecahan masalahnya.

Semoga segera teratasi.

Perlunya Test Kehamilan Sebelum Menikah

Perjalanan ke kantor Darmawangsa saya pagi ini dengan driver adalah perihal keabsahan status pernikahan orang yang hamil di luar nikah. Saya pernah membaca referensi bahwa wanita yang sedang hamil itu haram untuk dinikahi, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Wanita yang terlanjur hamil, justru menikah untuk menutup aib.

Sebuah referensi mengatakan bahwa: “Haram hukumnya menikahi wanita yang sedang hamil. Seharusnya tunggu dulu sampai dia melahirkan baru dinikahkan.” ┬áDari statement itu kemudian pembicaraan menjurus pada pengurusan surat-surat di KUA. Saya yang notabene sedang mengurus surat nikah dengan tanggal dan bulan yang sudah terencana rasanya memakan waktu saja, sedangkan tetangga saya yang beberapa bulan lalu juga mengurus surat nikah karena “kecelakaan” cenderung lebih cepat. Oke, lepaskan pembicaraan dari “opnum nakal”. Dari sini muncul pertanyaan besar dibenak saya “Kenapa KUA memberi ijin untuk menikah? Bukannya KUA juga mengerti aturan Islam?”

Kemudian driver saya mengatakan bahwa sebelum menikah itu ada beberapa pemeriksaan yang harus dilakukan oleh pasangan yang akan menikah. Dari sini kemudian saya beranggapan bahwa KUA seharusnya juga melakukan pemeriksaan apakah wanita yang akan menikah ini dalam keadaan hamil atau belum. Tentu saja ini akan lebih melegakan bagi KUA, secara lebih sesuai dengan aturan dan mungkin juga mengurangi angka perceraian akibat dari “keterpaksaan menikah”. Lalu apakah si lelaki bisa bebas begitu saja? Enggak! Buat aturan yang mengikat si lelaki untuk bertanggung jawab pada si wanita.

Ayo dong! Indonesia mampu kok buat peraturan ini. Tes ini juga menguntungkan buat para wanita. Dear MUI, seandainya terpikirkan hal ini, segera eksekusi dan godok matang undang-undangnya.

Terimakasih

Perihal Menikah, Bagian I

Menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan itu ribet yang menyenangkan. Stres, ribut, bingung rasanya campur aduk. Saya tidak selalu setuju dengan pendapat orang jika saya tidak mengalaminya sendiri. Biar saja orang lain mengatakan “Menikah itu tidak enak, kamu akan terkekang” dan berbagai macam alasan lainnya. Saya memang tidak berpengalaman, tapi saya tidak akan tahu kenyataan kalau saya tidak mencobanya.

Berbagai persiapan dilakukan. Mencari tempat acara, baju, KUA, seserahan, undangan, mahar, dan berbagai ubo rampe lainnya. Semua harus dilakukan sendiri. Oleh karenanya bersyukurlah kalian yang punya orang tua yang riwil soal pernikahan, karena mereka akan membantumu sepenuh hati dan sekuat tenaga mereka. Jika kalian mempersiapkan semuanya sendiri, maka usahakan untuk memisahkan saat kalian bekerja & mempersiapkan pernikahan. Bagi saja waktunya. Pagi-Sore saatnya bekerja dan sore hingga malam untuk mengurus acara pernikahan. Usahakan jangan sampai kacau salah satunya. Resikonya kalian akan kehilangan sedikit konsentrasi. Usahakan untuk fokus.

Setelah tanggal ditentukan, saat itulah keribetan dimulai. Belum lagi ketika kalian harus menyatukan pendapat dari dua keluarga. Ini tidak mudah, temans. Carilah kesepakatan untuk acaranya, usahakan dua keluarga duduk bersama untuk menentukkan hal ini. Jelas saja ini berpengaruh pada jalannya persiapan.

bersambung..