Ananda Rifqia Kinanti, panggil saja Kian!

Selasa, 09 Juni 2015. Karena sudah kepengen bakso dari siang, sore itu selepas maghrib saya berencana makan bakso langganan yang jualan di ujung jalan masuk perumahan. Selepas mandi sore tetiba perut rasanya kenceng buat jalan, padahal perut laper. Akhirnya stater motor & meluncurlah ke ujung gang demi semangkok bakso yg dibungkus. Saat menunggu bakso siap, perut rasanya sudah berat sekali & tidak kuat berdiri, tapi tetap saya paksakan sampai pulang ke rumah dengan selamat. Semangkok bakso pun pindah ke perut. Adzan isya’ berkumandang. Setelah shalat & menelpon bapaknya Kian, saya tiduran sambil nonton tv sampai akhirnya sekitar jam 21:00 wib listrik kompleks padam & saya tidak bisa tidur. Perut mulai tidak nyaman, logika saya karena sambel yang terlalu banyak sehingga saya bolak balik ke kamar mandi. Sampai jam 00:00 wib listrik tak kunjung menyala dan hujan yang hanya lewat tadi sudah lama kering. Akhirnya jam 00:47 wib listrik menyala kembali & saya bisa tertidur. Mau tahu berikutnya?

Jam 02:10 wib perut saya kembali bergejolak & saya harus kembali ke kamar mandi. Ketika saya baru membuka pintu, rasanya ada yang keluar (seperti menstruasi baru keluar di hari pertama). Ternyata darah! Dan saya kembali ke kamar sambil berpikir siapa yang harus saya telpon. Seharusnya saya bisa membangunkan tetangga depan karena beliau sudah berpesan untuk dibangunkan ketika saya merasakan mules mau melahirkan, tapi karena listrik tadi mati & saya baru mendengar tetangga depan baru saja mengunci pagar pada pukul 02:10 wib, jadi saya tidak tega untuk membangunkan. Mau membangunkan anak-anak kost juga rasanya sudah tidak kuat untuk naik ke atas lalu mengetuk kamar mereka. Akhirnya tertekanlah nomer telpon om & adek (entah mana yang cepat sampai rumah, pikir saya), kemudian baru menelpon bapaknya Kian di Surabaya.

Karena om lebih cepat sampai, maka berangkatlah ke RSIA terdekat rumah. Hanya 7menit untuk sampai ke tujuan. Masuklah ke IGD & tekanan darah saya yang biasanya normal, saat itu mencapai 140. Mungkin karena belum tidur & kelelahan siangnya tetiba ada firasat harus saat itu juga menyiapkan tas untuk ke RS. Terpasanglah infus dan ternyata sudah bukaan 1. Kontraksi masih belum sering terjadi. Tapi pagi itu saya memutuskan untuk tetap tinggal di RS. Berpindahlah saya ke ruang bersalin subuh itu. Cek sana sini, ternyata protein saya positif, seharusnya ibu hamil itu negatif. Lalu pukul 09:00 wib ternyata masih bukaan 1 & 2 jari terbuka. Kateter harus terpasang karena darah saya naik terus ke infus akibat saya sering ke kamar mandi & banyak gerak. Kontraksi makin sering terjadi, namun Kian belum turun ke bawah. Dokter masuk & menawarkan induksi/operasi karena ketuban saya sudah rembes di jam 02:10 wib tadi, saya juga tidak tahan dengan sakitnya kontraksi, juga karena tekanan darah saya tinggi. Jam 11:30 wib setelah bapaknya Kian datang & dokter kembali menanyakan, saya memutuskan untuk operasi! Selain cepat selesai juga biar siksaan sakit kontraksinya segera selesai & saya bisa tidur nyenyak. Dokter menjanjikan operasi pukul 15:30wib, tapi akhirnya dimajukan pukul 15:00 wib.

Pukul 15:28wib Kian dikeluarkan dari perut. Bapaknya Kian memvideokan operasi saya dari layar yang tersedia di ruang tunggu. Sedangkan saya yang seharusnya saat operasi melek, malah tidur setelah dibius. Hanya dibius lokal, namun rasa kantuk setelah semaleman tidak tidur, ditambah dengan capeknya menahan kontraksi, tertidur pulaslah saya. Suara suster yang mengatakan “sudah selesai, bu” membangunkan saya sejenak & hanya sempat bertanya “cewek/cowok, sus?”. Tak lama setelahnya, saya didorong menuju ke kamar & di luar ruang operasi saya melihat Kian di box bayi. Dia mirip sekali dengan omnya (adek saya), mungkin karena semasa awal kehamilan saya sering sebel dengan dia. Keluar dari ruang operasi saya merasakan badan saya gemetar terus menerus & rasa kantuk masih menyerang. Akhirnya saya tidur lagi sampai malam. Malam itu saya harus menginap di ruang HCU dengan monitor penunjuk angka tekanan darah ada di samping saya. Setelah terbangun dan tidak lagi merasa gemetar, saya mencoba membuka mata meski masih terasa mengantuk. Saya ngemil kurma demi menurunkan tekanan darah & semaleman terus menerus memantau monitor sialan di samping saya. Dan monitor sialan itu akhirnya dimatikan pagi harinya oleh suster karena justru membuat saya makin stres. Namanya juga monitor sialan, angka yang ditunjukkan berbeda dengan hasil tensi manual. Alhasil dokter mengatakan saya boleh pindah ke kamar perawatan siang itu karena tekanan darah saya sudah menurun dari 180 ke 130. 180 itu versi monitor sialan, saat mau operasi tensi saya 133.

Siang itu saya pindah kamar. Saat di HCU, Kian hanya 2x diberikan pada saya untuk disusui, selebihnya dia ada di ruang bayi. Saat di kamar perawatan, barulah dia diletakkan di box di kamar saya. Saya diharuskan menyusui Kian tiap 2jam sekali.

Hari Jumat siang ketika dokter berkunjung, dia mengatakan bahwa kalau tekanan darah saya sudah normal & infus sudah habis sore itu saya boleh pulang. Sialan! Saya bangun saja belum bisa, gimana mau pulang. Bisa miring kanan kiri pun itu dengan bersusah payah. Menjelang sore suster masuk dengan membawa infus dan mengatakan, “infusnya tambah 1 lagi ya, bu. Tensinya masih belum normal.” Dalam hati “yes!, berarti masih ada waktu buat latihan duduk & jalan”. Setelah infus habis & dilepas juga kateter, maka saya bertekad buat bangun. Sumpah ini perjuangan! Sampai akhirnya bisa bangun dan “tenger-tenger” di ujung tempat tidur sebelum memutuskan turun dan menunggu sakitnya reda. Saat berjalan menuju kamar mandi, sakitnya masih terasa. Namun setelah di kamar mandi, sakitnya hilang sampai keluar kamar mandipun sakitnya tak terasa. Oke, saya bisa pulang besok!

Sabtu, 13 Juni 2015, setelah menyelesaikan segala urusan administrasi, saya pulang. Oiya selama di RS saya terus menerus merasa kenyang dengan makanan enak-enak dari RS. Padahal biasanya saya itu jijik dengan makanan dari RS. Bahkan ketika mau pulang pun saya menikmati makan siang saya di RS, udang bago 2 ekor! Haha.. Perut kenyang, saya pun pulang!

Panjang ya.. Cerita ini sengaja ditulis biar Kian suatu saat baca sendiri. Sambil berharap wordpress tidak bangkrut seperti posterous, jadi tulisan ini bisa dibaca saat Kian sudah bisa membaca. Tulisan ini diketik saat shift 2 sudah tertidur & shift 1 terbangun untuk menjaga Kian yang sedang tertidur nyenyak.

Love you, Kian :*

Advertisements

10 thoughts on “Ananda Rifqia Kinanti, panggil saja Kian!

  1. Makin deg-degan bacanya. Apalagi sama-sama LDR-an ama suami di masa hamil tua.

    Selamat datang di dunia, Kian.. Semoga tumbuh sehat, cerdas, rupawan dan shalehah ya.. Mwah!

  2. Hi dek kian, Hello world
    Minggu Kemarin mau tilik kok sudah merapat ke sby…

    Semoga jadi anak yang cerdas, sehat dan berbakti kepada bapak ibu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s