Plesir Petjinan Surabaya

Hari minggu, 17 November 2013 kemarin, kami (saya dan Angki) mendapat kesempatan dari ce Maya dan kawan-kawan dari Komunitas Jejak Petjinan untuk membantu terselenggaranya acara Pelesir Pecinan Surabaya bersama CHHS. Acara dimulai pukul 08:00 wib. Para peserta yang sudah berkumpul di CHHS (Chong Hua High School) dibagi menjadi 2 kelompok yang ada dalam 2 bus besar dan 1 bus kecil. Tujuan kami adalah

Gang sempit yang di kanan kirinya penuh toko souvenir, Akses masuk menuju Masjid & makam

Gang sempit yang di kanan kirinya penuh toko souvenir, Akses masuk menuju Masjid & makam

  1. Masjid Agung Sunan Ampel
    Masjid ini merupakan peninggalan dari Sunan Ampel. Letaknya di tengah perkampungan dan gang sempit di daerah Surabaya Utara, tepatnya di Jl. Ampel Masjid no. 53. Bahkan untuk mencapai Masjid ini pun kami harus berjalan sekitar 1 KM dari tempat bus kami berhenti. Gang sempit tersebut harus kami lalui sambil berdesakan karena dibuat dua jalur dan dikanan kiri adalah toko cenderamata.
    Kata Ampel sendiri diambil dari kata Ngampel yang berarti meminjam, karena kebiasaan diucapkan kemudian kata Ngampil berubah menjadi Ampil atau Ampel. Sunan Ampel sendiri datang pada tahun 1390 M/792 H dari Trowulan ke Surabaya. Dibagian belakang masjid terdapat makam Sunan Ampel dan muridnya. Sampai saat ini makam tersebut masih banyak dikunjungi para peziarah dari berbagai kota.
    Lalu apa kaitannya Masjid ini dengan kebudayaan Tionghoa? Salah satu murid Sunan Ampel yang bernama Nyai Roro Kinjeng merupakan keturunan Tionghoa. Beliau dan keluarganya dimakamkan dilingkungan masjid ini.

    Papan peringatan dalam 7 bahasa. Indonesia, Inggris, Jerman, Perancis, dll

    Papan peringatan dalam 7 bahasa. Indonesia, Inggris, Jerman, Perancis, dll

    Pasar oleh-oleh yang ada di dalam lingkungan Masjid. Pasar ini cenderung lebih sepi dibanding jalanan akses menuju Masjid ini

    Pasar oleh-oleh yang ada di dalam lingkungan Masjid. Pasar ini cenderung lebih sepi dibanding jalanan akses menuju Masjid ini

    Menara Masjid

    Menara Masjid

     

    Tiang Masjid ini terpengaruh gaya Eropa

    Tiang Masjid ini terpengaruh gaya Eropa

    Pemakaman Sunan Ampel dari samping

    Pemakaman Sunan Ampel dari samping

     

    Makam Nyai Roro Kiendjeng (salah satu keluarga Tjoa) yang menjadi murid Sunan Ampel

    Makam Nyai Roro Kiendjeng (salah satu keluarga Tjoa) yang menjadi murid Sunan Ampel

  2. Jasa Pemakaman Ario
    DSC_1048-1
    Nama Ario dilekatkan sebagai nama Jasa Pemakaman ini pada tahun 1983, tepatnya setelah generasi penerus ke-7, yaitu Pak Ario. Jasa pemakaman ini merupakan usaha turun temurun dari keluarga Pak Ario. Dalam mewariskan usahanya pun, ayah Pak Ario ini tidak begitu saja menyerahkan pada anak-anaknya. Ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu harus bisa menyeimbangkan antara bisnis dan amal. Yang utama dalam berusaha jangan sampai jiwa kita kering dan bangkrut. Dalam setahun, Ario bisa mengeluarkan sekitar 1500 peti hanya untuk amal. Jasa yang diberikan dari tempat ini mulai dari memandikan jenazah, mencari tempat pemakaman, mencari pastor atau rohaniawan untuk memimpin sembahyang, sampai menjual peti mati. Ario ini tidak hanya melayani dari kaum tionghoa saja, namun juga semua kalangan dan agama. 

    Janis peti mati yang dihias dengan ukiran

    Janis peti mati yang dihias dengan ukiran

    Jenis peti mati Tiongkok.

    Jenis peti mati Tiongkok.

    Peti mati yang digunakan untuk jenazah yang dikremasi. Kayunya cenderung tipis supaya cepat habis ketika dibakar

    Peti mati yang digunakan untuk jenazah yang dikremasi. Kayunya cenderung tipis supaya cepat habis ketika dibakar

    Di Ario ini ada berbagai macam peti mati. Ada peti mati yang khusus untuk dikremasi, peti mati Tiongkok, peti mati dari alumunium, dan peti mati dari ukiran kayu biasa. Jasa pemakaman Ario ini terletak di Jl. Dinoyo no. 94-96 ,Surabaya.Untuk Peti mati Tiongkok, terbuat dari kayu jati yang beratnya mencapai 1-4 ton. Panjangnya disesuaikan dengan tinggi orang yang meninggal. Peti tiongkok ini digunakan untuk jenazah yang dimakamkan. Nama peti matinya adalah Shoupan. Shou berasal dari kata Shou yang artinya panjang umur dan Pan yang artinya kayu. Bentuk bunga pada bagian kanan dan kiri peti bermakna: kelopak atas artinya langit, bawah artinya bumi, kanan artinya matahari, dan kiri artinya bulan. Sedangkan tengahnya peti berbentuk kura-kura karena binatang kura-kura dipercaya sebagai binatang yang panjang umur.

    DSC_1053-1

    Visi & misi Ario yang ditulis dalam 3 bahasa

  3. Rumah Sembahyang Keluarga Han
    Rumah sembahyang Han ini dijadikan sebagai salah satu bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Surabaya, oleh karenanya bentuk rumah dan cat tidak boleh diubah. Rumah Sembahyang ini dibangun pada abad ke-19. Fungsinya untuk menghormati leluhur, jadi tidak ada pemujaan terhadap apapun ditempat ini. Tiang dan besi rumah ini didatangkan langsung dari Brasco, Inggris. Rumah Sembahyang Keluarga Han ini berada di jl. Karet, Surabaya. Di rumah keluarga ini ada pertunjukan wayang potehi.

    Rumah Sembahyang Keluarga Han

    Rumah Sembahyang Keluarga Han

    Tempat sembahyang

    Tempat sembahyang

     

    Tiang rumah keluarga yang didatangkan langsung dari Bracso

    Tiang rumah keluarga yang didatangkan langsung dari Bracso

     

    Salah satu karakter dari Wayang Potehi

    Salah satu karakter dari Wayang Potehi

  4. Kelenteng Boen Bio

Kelenteng yang terletak di jl. Kapasan 131, Surabaya ini didirikan pada tahun 1883 dan bernama awal Boen Thjiang Soe. Nama Boen Bio diberikan setelah kelenteng ini selesai dipugar pada tahun 1906. Pemugaran dilakukan oleh Mayor The Toan. Tanah yang digunakan sekarang merupakan hasil sumbangan. Jika anda datang ke kelenteng ini, maka anda bisa membaca sejarah pembangunan sampai dengan anggaran yang digunakan tertulis di prasasti dengan menggunakan bahasa mandarin kuno.
Kata Boen berarti sastra atau budaya dan Bio artinya kuil atau kelenteng. Oleh karenanya banyak puisi dan karya sastra lain di kelenteng ini. Jika anda tertarik untuk belajar barongsai, dilingkungan ini juga digunakan untuk latihan barongsai. Anda bisa datang ke sini jika ingin bertanya lebih lanjut. Bahkan dibagian belakang kelenteng masih digunakan untuk latihan band anak-anak remaja.

Ada lima pintu berjejer untuk masuk Kelenteng

Ada lima pintu berjejer untuk masuk Kelenteng

Tempat sembahyang

Tempat sembahyang

Lampion yang bergantung puisi-puisi

Lampion yang bergantung puisi-puisi

Salah satu tiang yang ada di dalam Kelenteng Boen Bio

Salah satu tiang yang ada di dalam Kelenteng Boen Bio

Barongsai

Barongsai

Kelenteng Boen Bio merupakan tujuan terakhir jalan-jalan kali ini. Sampai jumpa diacara jalan-jalan menyusuri jejak pecinan di Surabaya selanjutnya 😀

Advertisements

2 thoughts on “Plesir Petjinan Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s