Buku Nikah Itu… Ergh!

Buku Nikah

Jadi begini…. Errrrrggghhhh!

Akhirnya terlewati juga masa-masa mengenaskan sebelum pernikahan. Oke, sewajarnya memang menikah pada intinya hanya ijab kabul, tapi kemudian pikiran-pikiran yang membuatnya jadi tidak semudah itu. Masih ada tuh postingan ribetnya blablabla saya sebelum menikah. Lalu kamu stres ngapain?

Oke itu bukan pertanyaan gampang untuk saya jawab. Mulai dari desakan invoice kantor yang berulang tahun serta seluruh blablablanya yang pada akhirnya membuat pengunduran diri saya jadi mundur terus sampai urusan KUA yang tak kunjung selesai. Mau dibahas satu-satu? Oke.

Kenapa KUA saya tidak segera selesai? Masalahnya ada pada yang mengurus. Om saya yang katanya sudah membayar orang kelurahan untuk mengurus surat saya, ternyata tidak beres. Tanggal 27 Mei saya datang ke kelurahan dengan diantar oleh om. Sampai di Kelurahan saya disodori berkas surat nikah yang sudah lengkap. Orang kelurahan itu menyuruh saya datang langsung ke KUA untuk mendaftarkan tanggal pernikahan. Ketika dia mengecek kembali berkas saya, saya melihat ada amplop dengan nominal Rp. 500.000,00 yang pernah saya transfer ke om saya untuk membayar biaya administrasi biar segera selesai. Amplop itupun dibuka olehnya dan diambil kira-kira Rp. 200.000,00 yang katanya untuk biaya administrasi. Kemudian saya disuruh segera ke KUA. Sampai di KUA, berkas yang saya bawa itu dicek ulang oleh ibu yang bertugas. Setelah semua berkas lengkap, saya ditanya mau menikah tanggal berapa & jam berapa? Di sini saya terkejut! Lho! Ternyata saya belum dapat kepastian jam menikah, padahal penjelasan dari petugas Kelurahan melalui om saya, saya bisa menikah jam berapa saja. DAMN!

Oke saya coba tenang dulu biar urusan cepat selesai. Ternyata jam 7-10 pagi tanggal 16 Juni, sudah full orang yang mau menikah. Jadi pilihan saya hanya jam 6 pagi atau jam 11 siang. Edan! Padahal di undangan, akad nikah sudah siap tercetak jam 09.00 wib. Akhirnya saya ambil jam 06.00 pagi dengan berbagai persyaratan untuk tidak molor karena akan berpengaruh pada pasangan yang akan menikah berikutnya.

Selesai daftar, diamplop tersisa uang Rp. 300.000,00 dan tidak kembali lagi pada saya uang tersebut.

Bagaimana dengan undangan? Gampang! Tinggal telpon percetakan dan alhamdulillah belum naik cetak.

Fiuh…

Alhamdulillah akhirnya ijab kabul berlangsung lancar dan pengucapannya pun tanpa diulang. Tetapi buku nikah tidak langsung kami dapat saat itu juga selesai acara. Jadi kalau kalian melihat kami berdua foto dengan buku nikah seusai akad, itu statusnya hanya pinjam.

Saya tidak tau wajarnya buku nikah itu jadi langsung atau masih makan waktu, tapi buku nikah kami jadi seminggu setelah pernikahan. Adek saya yang mengambilnya di KUA dan mengirimkannya ke Surabaya. Dan….. Kejadian yang baru saja terjadi adalah kata Angki, tanggal pernikahan dan alamat rumah salah.. ARGH! Padahal sudah melalui pengecekan 2x, yaitu saat pendaftaran dan saat sebelum ijab kabul diucapkan. Lalu bagaimana kelanjutannya? Silakan menantikkan. Kebetulan weekend ini kami berencana ke Semarang, jadi mungkin saya akan mampir ke KUA.

Hummppppffff……….

Gambar dari sini

Advertisements

4 thoughts on “Buku Nikah Itu… Ergh!

  1. Lha kok pinjam? Setelah akad nikah, tanda tangan buku nikah, selesai. Langsung dikasihkan ke pasangan yg barusan nikah. Lha lapo pake kembali ke KUA sampek seminggu? Nanti kalo ke semarang, jangan lupa ngomel-ngomel sampek tuntas, buku sekali seumur hidup ikuuu!

    • Halaya itu, Mi.. Buku nikah diminta lagi karena jadinya seminggu lagi. Njuk abis seminggu itu salah tanggal & alamat rumah, nyebahi tenan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s