Perlunya Test Kehamilan Sebelum Menikah

Perjalanan ke kantor Darmawangsa saya pagi ini dengan driver adalah perihal keabsahan status pernikahan orang yang hamil di luar nikah. Saya pernah membaca referensi bahwa wanita yang sedang hamil itu haram untuk dinikahi, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Wanita yang terlanjur hamil, justru menikah untuk menutup aib.

Sebuah referensi mengatakan bahwa: “Haram hukumnya menikahi wanita yang sedang hamil. Seharusnya tunggu dulu sampai dia melahirkan baru dinikahkan.”  Dari statement itu kemudian pembicaraan menjurus pada pengurusan surat-surat di KUA. Saya yang notabene sedang mengurus surat nikah dengan tanggal dan bulan yang sudah terencana rasanya memakan waktu saja, sedangkan tetangga saya yang beberapa bulan lalu juga mengurus surat nikah karena “kecelakaan” cenderung lebih cepat. Oke, lepaskan pembicaraan dari “opnum nakal”. Dari sini muncul pertanyaan besar dibenak saya “Kenapa KUA memberi ijin untuk menikah? Bukannya KUA juga mengerti aturan Islam?”

Kemudian driver saya mengatakan bahwa sebelum menikah itu ada beberapa pemeriksaan yang harus dilakukan oleh pasangan yang akan menikah. Dari sini kemudian saya beranggapan bahwa KUA seharusnya juga melakukan pemeriksaan apakah wanita yang akan menikah ini dalam keadaan hamil atau belum. Tentu saja ini akan lebih melegakan bagi KUA, secara lebih sesuai dengan aturan dan mungkin juga mengurangi angka perceraian akibat dari “keterpaksaan menikah”. Lalu apakah si lelaki bisa bebas begitu saja? Enggak! Buat aturan yang mengikat si lelaki untuk bertanggung jawab pada si wanita.

Ayo dong! Indonesia mampu kok buat peraturan ini. Tes ini juga menguntungkan buat para wanita. Dear MUI, seandainya terpikirkan hal ini, segera eksekusi dan godok matang undang-undangnya.

Terimakasih

Advertisements

9 thoughts on “Perlunya Test Kehamilan Sebelum Menikah

  1. tes kehamilan, apakah kalau hamil terus batal nikah?
    tes kesehatan juga, apakah kalau tidak sehat lalau pernihakan batal?
    lanjutkan kyyy 2 bulan lagi

    • Iya slams, kalo hamil kan jelas ndak boleh nikah. Kudu lahir dulu baru diperbolehkan menikah.
      Kalo kesehatan, aku belum tau ada aturannya atau tidak. 😀

  2. Menikahi wanita hamil memang haram hukumnya. Biasanya mereka yang kecelakaan memang melangsungkan pernikahan hanya untuk menutupi aib agar si anak tidak lahir sebagai “anak haram” (duh, aku gak suka banget pake kata ini)

    Nah, setelah si anak lahir orang tuanya harus menikah lagi agar pernikahan mereka sah di mata agama. pernikahan kedua ini tidak harus dicatatkan, cukup diketahui oleh orang tua yang bersangkutan beserta saksi-saksi sesuai syariat Islam.

    Itu kata ustad lorong sebelah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s